-->

Xi Jinping ingin Peringatkan Joe Biden untuk Mundur dalam Masalah Taiwan

Xi Jinping ingin Peringatkan Joe Biden untuk Mundur dalam Masalah Taiwan.lelemuku.com.jpg
BEIJING, LELEMUKU.COM - Presiden Cina Xi Jinping diperkirakan akan memanfaatkan pertemuan virtual pertamanya dengan Presiden AS Joe Biden untuk memperingatkan Amerika Serikat agar "mundur" dalam masalah Taiwan, demikian editorial media pemerintah Cina, Senin, 15 November 2021.

Xi dan Biden dijadwalkan bertemu secara virtual pada Selasa pagi waktu Beijing - Senin malam di Washington - karena gesekan antara  kedua negara terus berlanjut di berbagai masalah termasuk perdagangan, teknologi, Xinjiang dan terutama Taiwan, sebuah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri namun diklaim oleh Cina.

Sebuah editorial dalam bahasa Inggris China Daily  menyatakan bahwa kemungkinan Xi akan memberi kesan kepada Biden bahwa Beijing bertekad untuk "mewujudkan reunifikasi nasional di masa mendatang tidak peduli berapa pun biayanya".

Outlet media pemerintah seperti China Daily diberi pengarahan oleh pihak berwenang tentang isu-isu penting seperti hubungan Cina-AS dan akurat dalam mencerminkan prioritas para pemimpin Cina.

"Masalah Taiwan adalah garis merah utama Cina", tulis editorial Global Times, sebuah tabloid yang diterbitkan oleh People's Daily milik Partai Komunis yang berkuasa.

"Untuk mengurangi risiko tabrakan strategis antara Cina dan AS, yang terakhir harus mengambil langkah mundur dari persoalan Taiwan dan menunjukkan pengekangannya," tulis Global Times.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada hari Sabtu, diplomat senior Cina Wang Yi memperingatkan Washington agar tidak mengirimkan sinyal yang salah kepada pasukan pro-kemerdekaan Taiwan.

Beberapa ahli mengatakan penekanan Cina pada Taiwan di tengah-tengah titik gesekan lainnya mencerminkan keengganan untuk terlibat dalam konflik bersenjata dengan Amerika Serikat secara tidak perlu, terlepas dari kata-kata dan tindakannya baru-baru ini, termasuk mengirim pesawat dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya ke zona pertahanan udara Taiwan.

"Para pemimpin Cina sadar bahwa Cina belum menyelesaikan modernisasinya dan masih menghadapi banyak tantangan dalam ekonomi domestiknya," kata Li Mingjiang, profesor di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

"Perang bisa sangat mengganggu modernisasi ini dan merusak kebangkitannya," katanya kepada Reuters.

Cina juga tidak memiliki keyakinan penuh bahwa mereka dapat mengamankan kemenangan militer yang jelas pada tahap ini, kata Li. (Tempo)

Tentang Kami

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel